Senin, 19 Oktober 2009

Berkah Minyak Terciprat di Timur Laut Jakarta (1)

Rejeki minyak di Kabupaten Bekasi mendorong ide pembentukan kabupaten baru : Bekasi Utara
Penambangan minyak dan gas di wilayah Bekasi bagian utara terus bergulir. Ekonomi lokalpun mulai melaju. Kapasitas produksi yang meningkat dan potensi migas yang belum terkuak membuat daerah ini ingin membentuk kabupaten baru.

Masyarakat yang tinggal di Desa Kedung Jaya dan Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, bak para penyembah api. Bagaimana tidak. Setiap hari, api merah yang menyala bergumpal-gumpal ke langit menjadi pemandangan yang biasa bagi penduduk desa itu.
Pada siang hari, api membuat udara terasa semakin terik. Di malam hari, api itu laksana obor raksasa yang menerangi seluruh penjuru desa.
Kobaran api itu jelas bukan dari pabrik atau pekerjaan orang iseng. Namun, di balik itu, ada kegiatan eksplorasi migas yang terbilang serius. Di sinilah satu-satunya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak yang berada di pinggiran, timur laut Megapolitan Jakarta.
Di dua desa itu, setidaknya ada tujuh sumur yang disebut Blok Tambun, kini deras mengucurkan emas hitam alias minyak mentah. Masih ada blok lain bernama Pondok Tengah yang sumurnya berada di sekitar pantai utara Jakarta.
Kapasitas produksi dua blok tersebut juga berbeda jauh. Minyak yang mengucur dari Blok Tambun kini sudah mendekati 20.000 barel per hari (bph), dari sebelumnya 16.000 bph. Minyak itu mengalir lewat pipa ke Balongan, Cirebon. “Blok Pondok Tengah justru turun, dari 3.000 bph sekarang hanya 1.000 bph,” kata Muhammad Harun, Manajer Komunikasi Perusahaan Pertamina EP, anak usaha Pertamina yang mengeksplorasi wilayah ini sejak 2000 silam.
Bagi Pertamina, jumlah produksi Blok Tambun ini tergolong besar, sebab sudah di atas 10.000 bph. Jumlah produksi tersebut berada di posisi kelima setelah Riau, Kutai Kertanegara, Tuban, dan Bojonegoro. Pertamina pun akan melebarkan sumur baru di Blok Tambun dan sekitarnya. “Di mana letak persisnya, kami belum bisa bicara,” kata Harun.

Spekulan berdatangan

Selain minyak, kawasan ini juga menjadi lumbung gas. Bila kucuran minyak mentah dikuasai Pertamina EP, namun gas diserahkan kepada badan usaha milik daerah (BUMD) Kabupaten Bekasi bernama Bina Bangun Wibawa Mukti (BBWM). BBWM kini menggandeng PT Odira Energi Persada, perusahaan swasta di bidang gas, untuk mengolah gas tersebut dan menjualnya. “Saat ini produksinya mencapai 16 juta kaki kubik per hari, dan akan menambah pendapatan daerah untuk tahun ini sebesar Rp 20,5 miliar,” kata Hilaluddin Yusri, Community Relationship Officer BBWM.
“Kami juga bekerjasama dengan PT Pertagas milik Pertamina untuk pengelolaan gas di luar Blok Tambun,” tambah Hilaluddin.
Seperti cerita yang terjadi di daerah lain, minyak di pinggir Jakarta ini pun menjadi sumber ekonomi lokal yang menghipnotis sebagian besar warga Bekasi. Namun, kegembiraan lebih besar dirasakan desa-desa di sekitar lokasi sumur minyak. Sejak emas hitam mengucur, geliat ekonomi di desa-desa di sekitar sumur minyak terlihat semakin kentara.
Namun, seperti laiknya daerah ekonomi baru lainnya, kawasan ini bak magnet yang kuat untuk mendatangkan spekulan tanah. Sekretaris Desa Kedung Jaya Abdul Hamid mengatakan, sudah puluhan spekulan tanah yang datang dan mengukur tanah masyarakat. “Namun, banyak yang bohong, sebab tidak ada transaksi,” kata Hamid.
Hanya ada beberapa pengusaha saja yang benar-benar serius. Umumnya mereka adalah pengusaha properti yang ingin membangun perumahan. Tercatat, ada ISPI Pratama Lestari Perkasa (Grup ISPI) yang akan membangun kawasan perumahan di atas lahan 120 hektare. Sebelumnya, Grup Persada Jaya Artha telah membangun perumahan sederhana Villa Gading Harapan 3 di atas lahan seluas 80 hektare. Total lahan untuk dua proyek properti ini seluas 240 hektare.
Pejabat Desa Kedung Jaya kini juga kedatangan para pejabat dari Pemprov DKI Jaya yang berniat membeli lahan seluas 150 hektare hingga 200 hektare untuk perumahan Pemprov DKI Jaya. Lahan yang berlokasi tidak jauh dari stasiun pengumpul minyak Blok Tambun itu kini masih berstatus lahan pertanian. “Kami sedang mengusahakan perubahan status dari pertanian menjadi perumahan,” beber Hamid.
Belum lagi rencana investasi di bidang industri yang akan masuk ke daerah ini. Saat ini sudah beroperasi PT Fujesei, perusahaan pengolahan plastik untuk produk-produk elektronik seperti kulkas, televisi, dan radio. “Memang nanti akan ada kawasan industri di sini, makanya banyak spekulan yang masuk,” tambah Saifullah, Kepala Desa Kedung Jaya.
Harga tanah di desa itu pun terkerek hingga dua kali lipat. Harga tanah di Buni Bakti, kalau sebelum eksplorasi berlangsung hanya sekitar Rp 150.000 per m2, kini melonjak dua kali menjadi Rp 300.000 per m2. Sedangkan di Kedung Jaya harga tanah saat ini Rp 200.000 per m2, dari sebelumnya seharga Rp 100 .000 per m2.
Harga tanah persawahan juga ikut melambung. Bila sebelumnya harga tanah sawah hanya Rp 30.000 per m2, saat ini menjadi Rp 50.000 per m2. Sedangkan di persawahan yang dekat dengan sumur-sumur minyak melenting lebih tinggi lagi. Kalau sebelumnya cuma Rp 45.000 per m2, kini sudah seharga Rp 175.000 per m2.
Dampak kegiatan pengeboran minyak di kawasan ini terlihat jelas dari infrastruktur. Sebelumnya, jalan utama didaerah Babelan penuh lubang di musim hujan. Namun kini, jalanjalan utama itu dilapis beton, bahkan ke gang-gang kecil yang masuk permukiman penduduk. “Itu perbedanaan yang paling terlihat sejak ada aktivitas eksplorasi minyak di sini,” kata Mari Marja, Kepala Desa Buni Bakti.
Meski begitu, perbaikan infrasruktur jalan itu tidak datang begitu saja. Aparat Desa Buni Bakti bersama masyarakat pada awal-awal pengeboran sering memprotes Pertamina dengan cara menyetop kendaraan berat yang lewat. “Jalan sering rusak karena kendaraan mereka. Karena kami sering protes, akhirnya infrastruktur diperhatikan,” kata Marja.
Sekolah-sekolah negeri maupun madrasah di kawasan ini juga kecipratan rezeki minyak dari Pertamina EP. “Kalau untuk bantuan yang kecil-kecil Petamina terkesan pelit, tapi kalau bantuan pendidikan Pertamina royal. Madrasah di dekat rumah saya dibantu Rp 200 juta,” kata Saifullah.
Kantor desa penghasil minyak juga ikut makmur. Pada tahun ini, Desa Kedung Jaya maupun Desa Buni Bakti mendapat dana operasional selama satu tahun Rp 600 juta, termasuk membayar gaji. Dana ini lebih tinggi dari desa lain yang hanya menjadi penyangga minyak. “Tahun 2010, dana untuk desa mencapai Rp 800 juta per tahun,” tutur Saifullah. (bersambung)

Sumber : Kontan

0 komentar:

Posting Komentar

 

Recent post

EKONOMI (3) GAYA HIDUP (7) HUKUM (12) POLITIK (1) REALITAS (8) SOSIAL (5) WAJAH (5)
Powered by  MyPagerank.Net

monitor

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net