Tampilkan postingan dengan label WAJAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAJAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2010

Al- ulamaa warotsatul anbiyaa (ulama pewaris para nabi)

Menyikapi persoalan yang berkembang belakangan ini dikota dan kabupaten Bekasi, terutama yang menyangkut sara, saya ingin coba sedikit mengusulkan warna kepada temen temen sekalian, mungkin bisa jadi bahan pemikiran tentang persoalan yang sedang in dan berkembang dengan demo2 yang dilakukan banyak ormas islam belakangan ini, menyangkut gereja, patung tiga dewi dll, ditambah lagi setelah saya mendengar talkshow diradio dakta, edisi minggu 13 juni 2010, sekilas saya merasa miris bila melihat perkembangan yang terjadi belakangan ini, sebagai muslim saya sepakat bila pemerintah yang berasal dari orang muslim memiliki apresiasi besar bagi pengembangan islam didaerahnya, namun bila melihat hal yang berkembang sekarang, dengan banyaknya ustad dan kiyai yang terlalu bersuara lantang menyalahkan pemerintah terkait dengan berkembangnya umat kristiani diBekasi, kalimat hadits yang saya tampilkan sebagai judul dalam tulisan ini membuat saya semakin bertanya tanya tentang latar belakang yang sedang terjadi, karna buat saya dan dalam pengertian saya yang dho'if ini tentang hadits itu adalah :

Al ulamaa warotsatul anbiyaa (ulama adalah pewaris para nabi )
"Muhammad = yatim piatu, lahir dari keluarga tidak mampu, masa kecilnya ngangon kambing, setelah menjadi nabi dan rosul mampu mengislamkan jazirah arab dan membangun kerajaan muslim yang sampai sekarang masih berdiri, bahkan ajarannya sampai sekarang masih menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat hampir diseluruh belahan dunia"

Bila menyimak beberapa isyu yang bergulir menyangkut persoalan sara diBekasi seperti :
1. patung tiga dewi yang diartikulasikan sebagai patung bunda maria, saya berpikir dan menghimbau kepada teman teman untuk lebih jelas dulu mengetahui duduk persoalan patung tersebut, apakah betul itu patung bunda maria atau bukan, karena setau saya patung bunda maria yang biasa digamnbarkan oleh umat kristiani tidak seperti itu, saya khawatir hal ini bisa menjadi titik balik buat umat islam karena kelemahan kita dalam memahami simbol-simbol keagamaan yang ada, dan buat pengusaha/pengembang penempatan patung tiga dewi itu mustinya lebih mengedepankan etika kebersamaan, untuk menghindari terjadinya multi tafsir dan kesalah pahaman, sebaiknya penempatan patung tiga dewi bila memang dialibikan sebagai patung dari para pemilik saham yang memang ketiganya perempuan, sebaiknya dipasang didepankantor pemasaran, selain menghindari gesekan gesekan sosial karena multi dan salah tafsir tadi, juga patung tersebut bisa dijadikan sebagai spirit bagi para karyawan dikantor tersebut dalam bekerja, karena merasa diawasi oleh big boss nya.

2. berdirinya gereja2 dan tempat peribadatan liar (tanpa ijin) diBekasi, sebagai negara hukum, segala sesuatu saya yakin emiliki aturan yang belaku, mungkin menyangkut hal ini saya juga merasa tepat apabila persoalan diajak pemerintah duduk bareng untuk membahasnya.

3. maraknya kristenisasi diBekasi, pada persoalan ini saya ingin sedikit mengkritisi temen temen ustazd, kiyai, persoalan yang muncul belakangan adalah, maraknya umat kristiani yang melakukan kegiatan bagi bagi halwah (sembako dll) dengan tujuan untuk mengajak umat muslim masuk kedalam kristiani, kemudian sebagian tokoh agama melakukan hujatan kepada pemerintah bahwa pemerintah tidak tanggap dengan persoalan ini, saya justru merasa aneh ketika persoalan yang dijadikan isyu, karena sesuai dengan kalimat hadits yang saya jadika judul bahwa ulama adalah pewaris para nabi, yang emnajdi pengertian saya adalah bagaimana nabi muhamad dalam frame yang paling umum dan global seperti saya kutip diatas, artinya bagaimana menjaga umat muslim tetap muslim, bagaimana mempertebal pengetahuan agama dan keimanan seorang muslim adalah tugas para ulama, tidak perlu kita marah dengan kegiatan bagi bagi sembako yang dilakukan oleh umat kristiani, karena ketika para ustazd dan kiyai dapat melakukan tugasnya saya yakin umat tidak akan bergeser dari agama dan keimanannya, atau ketika merasa tersinggung dengan kegiatan itu, lalu kenapa hal yang serupa tidak dilakukan oleh para tokoh agama atau umat muslim lainnya ?, sebagai pewaris nabi, saya yakin para tokoh agama, ustazd, kiyai sangatlah mafhum dengan ajaran islam dan kisi kisinya serta strategi strategi nabi dalam menyebarkan ajaran islam, kenapa juga seorang umat kristiani yang tanpa prediket (pastor atau biara) mampu melakukan kristenisasi, kenapa muslim dengan prediket pewaris nabi tidak mampu melakukan islamisasi, bahkan utuk membendung kristenisasi saja harus mendakwa pemerintah, lalu apa tugas temen temen selama ini ???

semoga ini bisa menjadi bahan renungan, saya tau kalau saya bukan ahli agama, namun sebagai muslim yang ingin hidup damai setelah nabi muhammad deklarasikan futuh mekkah, saya hanya ingin menyumbang pikir saya, saya mohon maaf apabila saya salah dalam memberikan pemahaman tentang ini. namun saya berharap kepada kalian yang merasa lebih tau soal islam, berikan saya pemahaman yang baik baik

terima kasih.
R. Hilaluddin Yusri



Rabu, 19 Mei 2010

Bekasi Lumbung Sejarah dan Sejarah Lumbung

Bekasi sebagai lumbung sejarah
Beberapa penemuan situs sejarah yang ditemukan, baik dari mulai situs buni, pasar emas, samapi kepada candi jiwa diwilayah perbatasan Bekasi karawang, menjelaskan banyak hal tentang Bekasi sejak tempo dulu sebelum masehi sampai sekarang, penemuan-penemuan tersebut merangkaikan cerita tentang apa yang ada dan terjadi di Bekasi sejak jaman dahulu kala, dikisahkan dari mulai era kerajaan taruma negara, salaka negara, sampai kepada expansinya membangun kerajaan pasundan (pajajaran), pada masa penjajahan atau kolonialis, Bekasi kerap kali selalu menjadi benteng pertahanan dan pusat logistik bagi para pejuanekaan kemerdekaan yang menyerang daerah batavia (jakarta), dan banyak lagi catatan-catatan sejarah tentang Bekasi, yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Bekasi sebagai sejarah Lumbung

Lumbung Emas
pada masa kerajaan taruma negara, Bekasi sangat kaya akan hasil bumi dan hasil laut, kemakmuran masyarakat taruma negara masa itu telah mengundang banyak minat para saudagar dan pedagang dari negri lain untuk datang ke taruma negara, termasuk dari negri cina, kemakmuran masyarakat pada jaman itu telah menghasilkan sebuah catatan sejarah, bahwa taruma negara pernah memiliki lumbung emas.


Lumbung logistik Mataram
Pada masa penjajahan, Batavia atau sekarang dikenal dengan jakarta, adalah daerah yang paling strategis untuk menjadi basis militer kolonialis, mengingat geografis dan sarana dan prasarana yang paling mudah untuk mendaratkan pasukan dan membuat benteng-benteng pertahanan, kondisi ini memaksa para pejuang kita yang datang dari berbagai daerah untuk mencari daerah yang berbatasan dengan jakarta untuk membangun basis-basis pertahanan dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah yang sudah menguasai jakarta, seperti yang dilakukan oleh tentara mataram, yang sampai saat ini Bekasi dikenal sebagai Lumbung logistik Mataram.


Lumbung MIGAS dan Industri
Pada masa orde baru, pemerintah mempunyai perencanaan lain untuk Bekasi, dalam banyak event, pemerintah Indonesia memprimadonakan Bekasi sebagai salah satu tujuan Investasi, mengingat daerahnya yang sangat dekat dengan Jakarta, sehingga barangkali pengawasan terhadap keberadaan dan keamanan investasi mungkin lebih selain banyak alasanalasan lain pemerintah Indonesia masa itu, sejak itu Bekasi menjadi lahan yang sangat subur bagi investor untuk menanamkan investasinya di Bekasi, sejak awal tahun 80an pertumbuhan Industri dibekasi bak cendawan dimusim hujan, selain itu pemerintah juga giat melakukan expedisi-expedisi dan pemetaan kandungan sumber daya alam, dimulai dari sumur jati negara II yang berlokasi didesa jati raden kota bekasi yang kini sudah tidak produktif karena keberadaannya sangat tidak strategis atau berada ditengah-tengah perkotaan, sampai kepada wilayah utara Bekasi yang saat ini masih terus dilakukan pengembangan dan penambahan block dan clusternya, saat ini sumur MIGAS yang sudah beroperasi diBekasi terdapat 3 block (lapangan) meliputi lapangan Tambun, lapangan Pondok Tengah dan lapangan Pondok Makmur, meliputi 12 desa dengan hasil produksi yang ditargetkan pada tahun 2010 sebanayak 25.000 barel/hari, dari 121 desa yang direncanakan.


Kondisi ini harusnya menjadi potensi yang begitu besar baik bagi Pemerintah Daerah maupun bagi masyarakat Bekasi untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Senin, 03 Mei 2010

Lagi....., bukti kepongahan kapitalis

KAWASAN Industri Jababeka terus memperluas wilayahnya di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Setelah sukses dengan Jababeka I dan II, kini dipersiapkan Jababeka III. Namun di tengah proses pembangunannya, Jababeka dituding telah melakukan kejahatan lingkungan karena mengabaikan amanat Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) 2008.
Ketua Biro Kajian dan Penelitian El-Kail (Lembaga Kajian dan Advokasi Lingkungan) Bekasi, Ridwan Arifin mengatakan, Jababeka telah mengabaikan amanat Amdal 2008. El-Kail, kata Ridwan, adalah termasuk lembaga yang ikut serta dalam tim penilai Amdal BPLH Provinsi Jawa Barat sehingga mengetahui betul proses dan terus mengawasi pelaksanaannya.

“Kita termasuk salah satu tim penilai dari unsur lembaga masyarakat. Dari dokumen amdal yang sudah dibuat, ada beberapa poin yang sampai hari ini belum dipenuhi Jababeka,” kata Ridwan, Sabtu (1/5).

Menurut Ridwan, kawasan Jababeka III dibangun di atas lahan 240 hektare yang berdiri di atas tanah tiga desa, yaitu Desa Tanjung Sari, Desa Simpangan, dan Desa Pasir Gombong, semuanya berada di Kecamatan Cikarang Utara. Berdasarkan site plan yang diajukan, akan ada 1.300 perusahaan yang nantinya menempati kawasan Jababeka III. Sebagai fasilitas pendukungnya, dibangun PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang dikerjakan oleh PT Bekasi Power.

Rencananya PLTU ini menjadi pemasok energi listrik ke seluruh kawasan Jababeka dan kawasan industri lain yang berada di Kabupaten Bekasi. Selain itu, juga akan dibangun Cikarang Dry Port (pelabuhan kering untuk peti kemas) dan jalur kereta api yang akan menjadi akses transportasi pengiriman barang menghubungkan kawasan Jababeka ke Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini sedang menunggu realisasi proiek double-double track.

Pembangunan PLTU seluas 50 hektare di kawasan yang memakai sebutan Techpark itu, menurut Ridwan telah menyebabkan radiasi yang menganggu perabotan elektronik milik warga sekitar, seperti televisi, radio, dan handphone. “Belum operasional saja sudah menyebabkan peralatan elektronik warga menjadi terganggu akibat radiasi dari PLTU. Bagaimana jika nanti sudah dioperasikan?” kata Ridwan dengan nada tanya.

Erka Encung, Ketua RW 04 Desa Tanjung Sari membenarkan keluhan itu. Sejak adanya proses pembangunan tahun 2008 lalu, masyarakat kerap mengeluhkan adanya pencemaran dan terganggunya alat-alat elektronik. “Warga khawatir jika radiasi PLTU tersebut bisa berdampak pada kesehatan mereka,” kata dia.

Belum bebas

Selain gangguan terhadap barang elektronik, Ridwan mengungkapkan bahwa Jababeka belum juga membebaskan sekitar tiga ratus KK yang rumahnya berdekatan dengan tembok pembatas kawasan serta belum ada penanaman pohon pelindung.

Akibatnya, debu projek beterbangan ke arah permukiman penduduk yang membuat warga banyak terkena penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) dan kebisingan akibat kegiatan projek yang dikerjakan pada malam hari. Masalah lain yang mengkhawatirkan warga adalah ancaman kekeringan dan banjir.

“Selama dua tahun Jababeka tidak melakukan apa-apa untuk masyarakat. Padahal, dalam amanat amdal seharusnya Jababeka membebaskan tiga ratus KK yang berbatasan langsung dengan pagar kawasan. Jelas ini sangat merugikan warga,” kata Ridwan.

Disebutkan juga, Jababeka III tidak memberikan pintu akses masuk ke Kampung Poncol, Desa Tanjung Sari. Akibatnya, akses ke kampung yang terdiri atas 4 RW dan berpenghuni sekitar 1.200 KK tesebut hanya ada dua jalan. Pertama melintasi rel kereta api dan jalan kawasan yang jika malam hari kerap ditutup. Padahal, seharusnya kata Ridwan, Jababeka menyediakan akses jalan yang memadai bagi daerah sekitar kawasan.

“Yang ada hanya jalan setapak. Kasihan warga harus terisolasi di kampungnya sendiri,” ujar Ridwan lagi.

Menanggapi hal itu, Direktur LPPM (Lembaga Penelitan dan Pengabdian Masyarakat) Jababeka, Sadeni Hendraman mengatakan, pihaknya sebagai kawasan berstandar internasional tentunya sangat menghormati aturan main yang berlaku. Menurut dia, tudingan adanya radiasi yang disebabkan oleh PLTU tidak benar karena semua teknologi yang digunakan ramah lingkungan.

Dia juga menjelaskan bahwa akses jalan yang ada memang ditutup pada malam hari karena dikhawatirkan akan menganggu kegiatan proyek. Sedangkan untuk pembebasan lahan, tinggal menunggu kesepakatan harga dengan masyarakat. Pohon pelindung, kata dia, harus menunggu proses. Sebab tidak mungkin langsung tumbuh besar.

“Jababeka telah membawa perubahan besar bagi masyarakat Cikarang. Selama ini, kami selalu peduli. Tidak mungkin jika kami berani melanggar aturan yang ada. Semua bisa diselesaikan dengan musyawarah.” Jababeka yang merasa kecewa dengan adanya tudigan Jababeka melakukan kejahatan lingkungan. (JU-16)

Senin, 14 September 2009

Bupati Tak Punya Konsep Atasi Kemiskinan

Oleh
Jonder Sihotang

Bekasi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi tidak mempunyai konsep dan program untuk mengatasi kemiskinan di wilayahnya. Pemkab hanya bertumpu pada anggaran pada APBD yang dialokasikan sebesar Rp 47 miliar lebih.
Hal itu diungkap Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Bekasi, R Hilaludin Yusri kepada SH, Selasa (15/4) siang, menanggapi terus membengkaknya jumlah warga miskin di Kabupaten Bekasi yang tercatat mencapai 500.000 jiwa lebih atau 111.527 keluarga.
Dia mengungkapkan, Rabu pekan lalu, Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana memaparkan angka kemiskinan di hadapan organisasi massa dan lembaga swadaya masyarakat. Tapi, saat ditanya apa konsep Pemkab Bekasi untuk mengentaskan kemiskinan, Darip selaku Ketua Tim Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Bekasi, tidak dapat memaparkan program dan solusi pemerintahannya.
“Ini sangat tragis. Ketika ditanya apa konsepnya mengentaskan kemiskinan, pejabat sekelas Wakil Bupati tidak dapat menjelaskan. Mestinya, pemerintah daerah membuat dan menyodorkan konsep mereka kepada masyarakat dan membuat perbandingan untuk dibahas mencari solusi apa yang tepat untuk mengentaskan kemiskinan itu,” katanya.
Hilaludin mempertanyakan: apakah benar pemerintah di daerah ini mempunyai kemauan serius untuk mengentaskan kemiskinan. “Jangan hanya pintar mengalokasikan dana sampai Rp 47 miliar dalam APBD, tetapi tidak jelas pemanfaatannya dan tidak menyentuh masyarakat miskin,” katanya.
Mestinya, Pemkab Bekasi harus mempunyai social engineering dan manpower planning bila betul ingin mengentaskan kemiskinan. “Jadi, jangan hanya bertumpu kepada besarnya anggaran yang tersedia, sementara tidak ada kemauan yang kuat dalam pelaksanaan. Pemerintah juga harus mempelajari penyebab kemiskinan yang dialami masyarakat,” tuturnya.
Dia mengusulkan agar Pemkab Bekasi membangun dan menyiapkan Balai Latihan Kerja (BLK) di bidang pertanian, termasuk dalam home industry tiap kecamatan sehingga masyarakat mempunyai keterampilan.
Jika ada perubahan dari sektor pertanian kepada industri, masyarakat sudah memiliki sumber daya yang dapat terjun ke dunia kerja. Hal itu perlu mengingat daerah pertanian di Kabupaten Bekasi sudah banyak berubah menjadi industri dan daerah hunian.
Sekretaris Forum Badan Perwakilan Desa (BPD) se-Kabupaten Bekasi, Ahmad Taufik, mengharapkan ada kemauan serius dari Pemkab Bekasi untuk mengentaskan kemiskinan. ”Para pejabat itu jangan hanya duduk di kantor saja, mereka perlu terjun ke masyarakat dan melihat apa yang dibutuhkan rakyat saat ini,” katanya.

Jumat, 04 September 2009

Hilaludin Yusri "Bekasi Luluh Lantak"

SEMUA Orang sepakat bahwa pemuda adalah generasi pelurus dan penerus bangsa. Tapi sedikit yang peduli dengan masa depan pemuda yang kini hidup dalam kepungan globalisasi, dimana nilai-nilai materialisme, individualisme dan hedonisme perlahan menyusupi urat nadi generasi muda. Amnesia sejarah menjadi penyakit baru dikalangan anak muda dewasa ini. “mungkin anak muda sekarang lebih kenal Dewi Persik ketimbang KH. Noer Ali, bisa jadi lebih fasih bercerita tentang musik dan grup band ketimbang sejarah Sumpah Pemuda dan para pencetusnya” ujar Hilaluddin Yusri, Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Bekasi.

Kekhawatiran pria kelahiran Bekasi tahun 1974 bukan tanpa alasan, menurutnya bangunan nilai saat ini sudah sangat kropos dan rapuh. Bekasi tempo dulu yang terkenal dengan kultur masyarakatnya yang agamis, berubah menjadi masyarakat yang sekuler. Kini kala sore hari, sangat jarang dijumpai rombongan remaja berbusana muslim menenteng kitab suci menuju masjid dan musola. Lepas magrib dan isya, tidak lagi terdengar lantunan ayat suci yang dikumandangkan.

“beda dengan saat saya remaja dulu, kini mall sudah menjadi tempat ibadah baru bagi banyak anak muda, pesantren menjadi benteng terakhir untuk menahan laju globalisasi di Bekasi” kata Hilal menghabiskan masa remajanya dalam lingkungan pesantren di Ujung Malang, Babelan.

Kondisi ini membuat Hilal merasa sangat prihatin. Dalam pandangannya, Bekasi telah luluh lantak disemua sendi kehidupannya dan nyaris tidak ada yang bisa dibanggakan. Di ranah ekonomi, laju pembangunan dan industrialisasi ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pinggiran seperti Bekasi bagian Utara dan Selatan. Begitu juga dengan kekayaan Sumber Daya Alam yang tidak bisa sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat. Ranah politik pemerintahanpun tidak beda kusutnya.

Kondisi ini tidak lepas dari political will pemerintah daerah dari masa ke masa yang kurang peka dalam membaca realitas kebutuhan masyarakat secara jangka panjang. Pembangunan infrastruktur ternyata tidak diikuti dengan pembangunan sumber daya manusia. Sehingga masa transisi kultur dari tradisional ke industri modern tidak dapat diimbangi oleh masyarakat Bekasi, yang terjadi kemudian adalah gegar budaya. “masyarakat bekasi tidak siap menghadapi perubahan yang demikian cepat, sehingga tidak dapat bersaing dan pada akhirnya terpinggirkan” kata pria penampilan kalem tersebut.

Hilal mencontohkan, ketika sawah dan lading yang menjadi sumber penghidupan para petani disulap menjadi kawasan industri dan perumahan, pemerintah daerah tidak memikirkan nasib petani yang tergusur. Parahnya, juga tidak ada upaya penyiapan SDM yang dapat bersaing di dunia industri semisal dengan mendirikan SMK dan Balai Latihan Kerja (BLK). “warga Bekasi hanya menjadi penonton didaerahnya sendiri, sebab mata pencaharian mereka terbunuh” kata Hilal lirih.

Untuk itu, bertepatan dengan momentum sumpah pemuda, Hilal berharap lahir sebuah kesadaran bersama dikalangan kaum muda untuk bersama-sama memberi kontribusi nyata bagi Bekasi. Yaitu dengan mengoptimalkan peran organisasi kepemudaan sebagai kawah candradimuka, untuk mengodok konsep dan solusi atas beragam persoalan kedaerahan serta menjadi tempat pengkaderan. “sudah saatnya kaum muda tampil dengan konsep dan solusi” cetusnya bersemangat.

Hal tersebut hanya akan menjadi mimpi, jika Pemerintah Daerah sebagai pemegang kebijakan tidak mengambil peran besar dalam pembinaan pemuda. Sebab selama ini, program yang diluncurkan oleh Pemda hanya bersifat temporal dan seremonial. Padahal, pemuda kota Bekasi membutuhkan hal yang lebih subtansi dan jangka panjang. Seperti misalnya program pemberdayaan dan peningkatan skill personal sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. “potret ketimpangan masyarakat di daerah Cikarang dan Cibitung cukup menjadi contoh buruk pembangunan, rencana pembangunan di Bekasi utara jangan sampai melahirkan gegar budaya lagi” kata pria yang pernah mencuat namanya karena kerap membongkar kasus korupsi di Kabupaten Bekasi.

Hilal berharap dengan adanya rencana pembentukan Dinas Pemuda pada SOTK yang abru dapat lebih mewadahi aspirasi anak-anak muda Bekasi. “pemuda Bekasi harus diselamatkan” ujar Hilal. (bratha)


 

Recent post

EKONOMI (3) GAYA HIDUP (7) HUKUM (12) POLITIK (1) REALITAS (8) SOSIAL (5) WAJAH (5)
Powered by  MyPagerank.Net

monitor

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net