Tampilkan postingan dengan label GAYA HIDUP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAYA HIDUP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juni 2010

Yahudi dan Nasrhoni adalah Sistem kehidupan


"Walan tardhoo ‘ankal yahuudu walan nashoroo hattaa tattabi’a millatahum……"

Bila kita melihat fenomena dan perkembangan yang terjadi belakangan ini tentang cerita-cerita israel dan palestine, tentu kita akan teringat dengan sebuah bangsa yang disebut bangsa yahudi, bangsa dimana masyarakatnya dikabarkan menjadi penguasa diberbagai bidang kehidupan hampir diseluruh dunia ini.

Perseteruan Israel dan palestine telah mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan, dari berbagai negara dan juga berbagi bangsa, namun kekukuhan yahudi untuk terus menguasai wilayah-wilayah palestine tidak pernah surut, meski hampir seluruh belahan bumi ini mengutuknya.

Fenomena kehidupan yahudi menjadi sangat menarik untuk disimak, karena bangsa dan negara ini adalah bangsa yang disebut sebagian orang arogan, namun itulah yahudi, bangsa yang oleh Allah mempunyai sebuah crita menarik dalam Alqur’an.

Seperti ayat yang saya kutip diatas, bahwa bangsa yahudi dan nasrhoni adalah bangsa yang tidak akan selesai melakukan pergerakan untuk mengajak kaum muslimin masuk kedalam millat ( ajaran, tata cara hidup, gaya berpikir dll ) mereka.

Pada kesempata ini saya ingin bertutur cerita tentang upaya-upaya dan progress yahudi dan nasrhoni dalam melaksanakan propagandanya sesuai yang disebut dalam ayat alqur’an diatas, bagaimana juga yahudi telah masuk kedalam sistem kehidupan kita yang paling mendasar :

  1. Yahudi dan Nasrhoni adalah adalah acuan bagi sistem kehidupan dunia ; dunia kerja yang berlaku diseluruh dunia ini mengatakan kepada kita akan sistem manajmen dan pola prilaku yahudi, dalam hadits nabi, rasulullah saw mengatakan, bayarlah upah mereka sebelum keringat mereka mengering, pada kehidupan nyata yang hari ini kita alami dan jalani sistem pengupahan yang berlaku adalah sistem bulanan, sementara apabila kita ingin mengaplikasikan hadits nabi, itu berarti kita harus kembali kepada sistem pengupahan harian, sementara sistem upah harian adalah sistem bagi pekerja lepas (freeland), namun nyaris seluruh masyarakat dunia mendambakan dunia kerja non freeland atau bukan buruh lepas, bahkan di Indonesia kita melihat bagaimana masyarakat kita rela melakukan aksi unjuk rasa agar mereka bisa diterima sebagai karyawan tetap atau bukan buruh lepas.
  2. Yahudi dan Nasrhoni  adalah gaya hidup ; dalam prilaku hidup dan kehidupan kita sehari hari tanpa kita sadari kita selalu mendambakan untuk segera mengahiri hari efektif dan ingin segera beristirahat yang biasa populer disebut orang dengan bahasa weekend atau liburan, namun tanpa kita sadari, bahwa liburan kerja atau aktivitas kita adalah dihari libur atau hari besar yahudi (sabtu) dan hari libur atau hari besar nasrhoni (minggu), dan bahkan ini kemudian menjadi sistem nasional hampir disetiap negara termasuk indonesia, padahal kalo kita mengacu kepada alqura’an bahwa ummat Islam diharuskan untuk tidak melakukan segala kegiatan atau aktifitas dan perniagaan dihari jum’at yang sama-sama kita kenal dengan sayyidul masuk ayyam, dan ini berarti bahwa kita telah melakukan penghormatan terhadap hari besar yahudi dan nasrhoni.
  3. Yahudi dan Nasrhoni adalah sarana dan prasarana hidup dan kehidupan; dalam prilaku hidup dan kehidupan masyarakat dunia saat ini selalu cenderung selalu mengikuti tren budaya dan teknologi dengan segala perkembangannya, dalam riuh dan hiruk pikuknya hujatan masyarakat dunia, disadari atau tidak bahwa apa yang mereka pergunakan sebagai sarana penunjang kemudahan hidup adalah teknologi dan perangkat yahudi.

Mengacu kepada ayat alqur’an yang saya kutip diatas, bahwa perlahan namun pasti kita telah masuk dalam millat yahudi dan nasrhoni, dekadensi moral dan spiritual telah masuk terlalu dalam, kedalam hidup dan kehidupan kita, terutama menyangkut pada hal-hal yang menjadi primer.

Jumat, 07 Mei 2010

Sesuatu yang kau anggap rumit adalah sesuatu yang kau anggap memiliki jalan keluar

Sering kita dengar orang mengeluh dalam banyak hal, seakan hidupnya mengalami begitu banyak kesulitan, baik dari segi ekonomi, maupun lain-lain termasuk urusan rumah tangga, kenyataan ini sekarang sangat menjadi trend terjadi, bahkan dikalangan selebriti hal yang menyangkut rumah tangga yang tidak harmonis kini menjadi tontonan sehari-hari yang dikonsumsi publik, sehingga banyak dari masyarakat kita saat ini menjadi pengikut trend rumah tangga yang tidak harmonis, perselingkuhan terkadang menjadi jalan keluar yang paling ampuh dan populer, yang lebih menyedihkan, mereka yang melakukan hal ini menganggap hal yang mereka lakukan adalah trend masa kini dan trend selebriti yang membanggakan, karena hal inilah kemudian hal yang tidak seharusnya terjadi menjadi terjadi, kesulitan dalam rumah tangga sekecil apapun mereka ciptakan menjadi besar, sesuatu yang tidak masalah menjadi masalah, hal ini kemudian dianggap rumit oleh mereka, karena sesungguhnya yang mkereka kejar adalah jalan keluar yang mereka sudah siapkan, yaitu selingkuh dan perceraian. sungguh kasihan…!!
Hal lain yang selalu kita dengar dari banyak orang adalah persoalan ekonomi, kesulitan hidup yang mereka alami adalah kesulitan yang mereka buat karena mereka merasa memiliki jalan keluar, berangkat dari mengikuti banyak trend dan gaya yang populer saat ini akibat globalisasi, baik dari menonton tayangan gosip dan gaya hidup selebriti maupun tayangan-tayangan sinetron yang mempertontonkan kehidupan yang wahhh, kemudian hal ini diikuti oleh banyak orang, sehingga penghasilan yang mereka dapati mereka rasakan tidak cukup, karena akibat dari trend gaya hidup yang mereka lakoni, lalu mereka mempersulit kehidupan mereka dengan mencari pinjaman sana sini dalam rangka menutupi kebutuhan hidup mereka, hal ini mereka lakukan tentu saja karena mereka memiliki jalan keluar, yaitu gaji bulanan yang dianggap dapat menutupi semua yang mereka pinjam sebelum mereka menerima gaji bulanan.
hal ini tentu saja menjadi sesuatu yang sulit, karena mereka harus berpikir untuk dengan siapa lagi mereka pinjam dan apakah gaji yang akan mereka terima nanti akan cukup untuk mengganti yang mereka pinjam.
Untuk menghindari itu, jangan menganggap sesuatu yang tidak seharusnya menjadi masalah dianggap bermasalah, terimalah apa yang seharusnya menjadi milik kita, iklas dan sabar adalah kunci yang paling ampuh untuk mengantisipasi hal tersebut.


Sabtu, 01 Mei 2010

Lestarikan Pasar Tradisional

Cikarang, Bekasi, 30/7 (Antara/FINROLL News) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Jawa Barat (Jabar) akan membangun 20 unit pasar tradisional baru guna mengimbangi pertumbuhan pasar modern yang kian menjamur di wilayah setempat.


Wakil Bupati Bekasi, Darip Mulyana, di Cikarang, Kamis, mengatakan tingkat persaingan bisnis usaha perdagangan mulai dari toko swalayan kecil hingga mal di Kabupaten Bekasi kian meningkat seiring peningkatan laju perekonomian penduduk
setempat.
"Sementara usaha kecil masyarakat di pasar tradisional semakin tersisih dan tidak mendapat tempat. Karena itu dalam rencana pembangunan tahun 2010, sekitar 20 pasar tradisional baru akan kita realisasikan di Kabupaten Bekasi," kata Darip. Ia menambahkan, Pemkab Bekasi hingga kini sudah merealisasikan satu unit pasar
tradisional di Kecamatan Cibitung. "Pembangunan fisiknya menghabiskan biaya sekitar Rp1,5 miliar melalui APBD 2008," ujarnya.
Apabila satu unit pasar rata-rata membutuhkan biaya pembangunan sekitar Rp1,5 miliar, kata dia, maka Pemkab Bekasi harus menyiapkan dana minimal Rp30 miliar untuk membangun 20 pasar tradisional baru. "Sampai saat ini Kabupaten Bekasi baru memiliki total 12 pasar tradisional. Pembangunan pasar tradisional itu bertujuan memberi tempat bagi pedagang kecil sehingga akan membangun perekonomian masyarakat di Kabupaten Bekasi," katanya.

Secara terpisah, Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Bekasi, Hilaludin Yusri, menyambut baik wacana tersebut. Menurutnya, pedagang pasar tradisional banyak
dirugikan dengan semakin maraknya pembangunan kawasan pasar modern. "Jelas mereka tidak akan kuat bersaing dengan pengusaha besar yang membangun pasar modern yang mayoritas jaraknya sangat berdekatan dengan pasar tradisional sehingga pelanggannya lebih memilih gedung yang memiliki AC dan nyaman ketimbang harus kotor-kotoran dan mencium bau tidak enak di pasar tradisional," katanya.
 Hilal juga meminta
kepada pihak terkait agar tidak hanya menyediakan fasilitas bagi pedagang tetapi memberikan bantuan kredit usaha ringan pedagang pasar untuk mengembangkan usaha mereka.
 "Selain itu ke depan juga harus ada upaya pelatihan bagi pengusaha kecil agar mereka memahami ilmu perekonomian yang dapat bermanfaat bagi usaha mereka kelak," katanya.

Rabu, 07 April 2010

Bahagiakan Diri sendiri Baru Bahagiakan Orang Lain

*Sebuah studi, kritik dan koreksi.

oleh: Al-Faqir ilallah Muhammad Ibnu Usri

Sering beredar sebuah perkataan yang dijadikan prinsip dalam kehidupan sosial masyarakat muslim yang tidak seiring dengan akhlak seorang muslim. Terlebih lagi al-faqir sering mendengar dari kalangan remaja muda; Bahagiakanlah Diri Sendiri Dulu Baru Bahagiakan Orang Lain. Harap tidak menyepelekan hal ini, karena bisa berdampak tidak baik dalam kehidupan sosial masyarakt dan negara. serta dapat menghambat cita-cita dalam mewujudkan masyarakat madani dalam tatanan negara muslim.


Sungguh sangat aneh jika kata yang beredar itu terangkai dari lisan seseorang yang labelnya muslim. terlebih lagi remaja mudanya yang sedang dalam masa transisi dan diliputi oleh rasa egoisme yang tinggi atau lebih mengutamakan diri sendiri. Padahal kata-kata seperti itu sangatlah tidak seiring dengan tuntunan akhlak seorang muslim. karena itu adalah egoisme. Islam tidak mengajarkan, Rasulullah saw. pun tidak mencontohkan hal yang demikian. jika perkataan itu dijadikan sebagai prinsip dalam kehidupan, maka sang pelaku -siapa pun dia, sadar atau tidak- telah menutup banyak pintu kebaikan yang seharusnya dia dapatkan.

Diantara sifat manusia yang alami adalah "rasa yang tidak pernah puas dan cukup dengan apa yang ada". hal ini terbukti dengan adanya perkembangan dan kemajuan peradaban disetiap zaman yang telah dicapai oleh manusia itu sendiri. dan dia akan terus menerus berkreasi agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memuaskan keinginannya.

Namun, bagaimanapun seseorang telah mendapatkan kebahgiaan yang dia inginkan, dia masih belum puas dengan apa yang dia dapatkan dan akan terus berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan yang lainnya.

Lalu, apa kaitannya dengan tema yang sedang dibahas?

Tentu sangat jelas sekali, bahwa seseorang yang telah mendapatkan kebahagiaan yang dia harapkan, belum tentu dia merasa puas dengan apa yang telah dia dapatkan. bahkan dia akan terus berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dirinya yang belum terpenuhi disisi lain. jika begitu keadaannya, kapan dia akan berbuat sesuatu untuk bisa membahagiakan orang lain? sedangkan kebutuhannya sendiri pun tak terbatas dan banyak yang belum terpenuhi.

Bersyukur jika orang itu bisa berbahagia dengan apa yang dia dapat dan merasa cukup dengan apa yang ada, kemudian dia berbagi rasa dengan orang lain sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, sehingga mereka pun ikut bahagia dan bergembira atas apa yang dia rasa. Tapi bagaimana keadaannya dengan seseorang yang jika seumur hidupnya selalu diliputi duka dan nestapa? disamping itu dia memegang prinsip "bahagiakan diri sendiri dulu baru bahagiakan orang lain". Hilanglah peluang untuk mendapatkan beragam kebaikan.

Teman-teman kaula muda muslim sejati, janganlah kalian pernah merasa lelah dan bosan dalam berbuat baik dan membahagiakan orang lain meskipun sebenarnya kalian sedang dilanda duka dan ditempa banyak masalah. karena rasa lelah dan bosan hanyalah sementara, akan hilang dalam waktu yang tak lama, dan kebaikan akan tetap ada dan bermanfaat, tetap bernilai disisi Allah dan akan dibalas oleh-Nya sekecil apapun itu:

"Maka siapa yang berbuat kebajikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya". (Q.S. Al-Zilzal: 7)

dalam ayat lain Allah pun memberi jaminan balasan kepada para hamba-Nya yang berbuat kebajikan:

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. An-Nahl: 97).

Maka dari itu teman-teman, mari kita bergegas dalam berbuat kebaikan, jangan sampai ditunda-tunda apalagi menunggu setelah datangnya bahagia. Umur manusia hanya Allah yang tahu batasannya. Jika ajal menjemput sebelum datangnya bahagia, maka hilanglah sudah kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain. amal apa yang sudah kita ukir?
Jangan pula menutup pintu-pintu kebaikan dengan prinsip-prinsip yang tidak seiring dengan akhlak kita sebagai seorang muslim. jadilah seorang pemuda berjiwa muslim sejati. Gaul namun tetap beragama. Berbuat baiklah, dan bahagiakanlah orang lain walau hanya dengan senyuman.

"Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran." (Q.S. Al-Ashr: 1-3).

Wallahu a'lam.

Selasa, 15 Desember 2009

Jangan Lagi Ada Gegar Budaya Di Utara Bekasi

Lahir dan dibesarkan di tengah keluarga santri dan masyarakat agraris tradisional, Hilal tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap setiap geliat perubahan di daerahnya. Konsentrasinya bukan hanya pada persoalan korupsi, tapi juga agama, sosial, budaya, Sejarah dan tata nilai. Berbicara dengan seorang Hilal, kita serasa berhadapan dengan sebuah perpustakaan besar yang siap memberi informasi tentang Bekasi. Seorang pribadi yang multi talen. Tidak mengherankan jika namanya sangat dikenal luas di berbagai kalangan.

Di ranah kepemudaan, ia menjadikan Karang Taruna sebagai alat perjuangannya. Jabatan sebagai sekretaris umum memudahkannya meresap bermacam ragam persoalan dan meramu gagasan solutif. Pemuda Bekasi hari ini, kata dia, kini hidup dalam kepungan globalisasi, dimana nilai-nilai materialisme, individualisme dan hedonisme telah menyusup setiap urat nadi. Amnesia sejarah menjadi penyakit baru di kalangan anak muda dewasa ini. Padahal, semua orang sepakat bahwa pemuda adalah generasi pelurus dan penerus bangsa. Tapi sedikit yang peduli dengan masa depan pemuda.

Kekhawatiran pria kelahiran Bekasi tahun 1974 bukan tanpa alasan, menurutnya bangunan nilai saat ini sudah sangat kropos dan rapuh. Bekasi tempo dulu yang terkenal dengan kultur masyarakatnya yang agamis, berubah menjadi masyarakat yang sekuler. Kini kala sore hari, sangat jarang dijumpai rombongan remaja berbusana muslim menenteng kitab suci menuju masjid dan musola. Lepas magrib dan isya, tidak lagi terdengar lantunan ayat suci yang dikumandangkan.

“Beda dengan saat saya remaja dulu, kini mall sudah menjadi tempat ibadah baru bagi banyak anak muda, pesantren menjadi benteng terakhir untuk menahan laju globalisasi di Bekasi” kata Hilal menghabiskan masa remajanya dalam lingkungan pesantren di Ujung Malang, Babelan.

Kondisi ini membuat Hilal merasa sangat prihatin. Dalam pandangannya, Bekasi telah luluh lantak disemua sendi kehidupannya dan nyaris tidak ada yang bisa dibanggakan. Di ranah ekonomi, laju pembangunan dan industrialisasi ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pinggiran seperti Bekasi bagian Utara dan Selatan. Begitu juga dengan kekayaan Sumber Daya Alam yang tidak bisa sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat. Ranah politik pemerintahanpun tidak beda kusutnya.

Kondisi ini tidak lepas dari political will pemerintah daerah dari masa ke masa yang kurang peka dalam membaca realitas kebutuhan masyarakat secara jangka panjang. Pembangunan infrastruktur ternyata tidak diikuti dengan pembangunan sumber daya manusia. Sehingga masa transisi kultur dari tradisional ke industri modern tidak dapat diimbangi oleh masyarakat Bekasi, yang terjadi kemudian adalah gegar budaya. “Masyarakat bekasi tidak siap menghadapi perubahan yang demikian cepat, sehingga tidak dapat bersaing dan pada akhirnya terpinggirkan,” kata dia.

Hilal mencontohkan, ketika sawah dan ladang yang menjadi sumber penghidupan para petani disulap menjadi kawasan industri dan perumahan, pemerintah daerah tidak memikirkan nasib petani yang tergusur. Parahnya, juga tidak ada upaya penyiapan SDM yang dapat bersaing di dunia industri semisal dengan mendirikan SMK dan Balai Latihan Kerja (BLK). “Warga Bekasi hanya menjadi penonton didaerahnya sendiri, sebab mata pencaharian mereka terbunuh,” kata Hilal lirih.

Berangkat dari keprihatinan tadi, Hilal merasa terpanggil mengawal agenda pembangunan khususnya di masyarakat daerah utara Kabupaten Bekasi. Sebab, kata dia, dalam waktu dekat daerah utara akan menjadi pusat industri baru dimana terdapat ribuan hektar kawasan industri, pelabuban bertaraf internasional, serta penambangan minyak dan gas.

“Potret ketimpangan masyarakat di daerah Cikarang dan Cibitung cukup menjadi contoh buruk pembangunan, rencana pembangunan di Bekasi utara jangan sampai melahirkan gegar budaya lagi” kata dia. (RADAR BEKASI)

Belajar Filosofi Kebun Bunga

Dibalik sepak terjangnya yang keras, tegas dan tidak kenal kompromi, Hilal ternyata seorang pencita tanaman dan bunga. Di rumahnya, beragam macam bunya memenuhi pelataran. Hilal, bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berkebun merawat dan menata tamannya. Ia seorang pecinta bunga sejati, coba saja tanya tentang apa saja mengenai bunga, ia pasti akan bisa menjelaskan secara gamblang dengan senang hati.

“Ada kepuasan tersendiri jika saya berada di tengah-tengah kebun. Melepas penat setelah seharian berkutat dalam pekerjaan,” katanya.

Menata kebun, kata dia, adalah seni yang mengasyikan. Perlu kepekaan dan intuisi dalam menata posisi tanaman, agar sedap dipandang. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan sosial politik. Masyarakat Bekasi sangat hetrogen dan tinggal di daerah yang memiliki potensi sumber daya alam, kultur dan budaya yang berbeda-beda. Jika tidak ditata dengan baik, maka akan semrawut.

“Saya banyak belajar sosial dari kebun. Di dalam sebuah taman, banyak sekali ragam bunga yang justru membuat indah dipandang. Dalam kehidupan sosial, kita tidak bisa memaksakan satu ragam yang sama, dan jangan salah menempatkan posisi” candanya.

Misalkan, masyarakat daerah utara yang bisa hidup dalam kultur tradisional, dengan potensi SDA yang agraris, jangan dipaksakan berubah menjadi masyarakat industri yang modern. Atau sebaliknya, masyarakat yang tinggal di daerah industri maka harus ditempa untuk memiliki daya saing. Dalam struktur pemerintahan juga begitu, penempatan orang dalam jajaran birokrasi harus pas dengan kemampuan dan kapasitasnya. Dengan begitu maka akan tercipta harmonisasi.

“Jika salah mengenali, maka akan salah menempatkan. Yang terjadi bukan lagi harmoni tapi anarki” katanya.

Pemerintah daerah, kata dia, seharusnya belajar dari filosofi alam tersebut. Apalagi dalam konteks kekinian, persoalan alam sudah menjadi perhatian dunia internasional. Bagaimana, pembangunan bisa tumbuh dan berkembang tanpa merusak keberadaan alam. “Itulah kenapa di Negara-negara maju, mengenal konsep kota ramah lingkungan” terang pria yang gemar menyanyi ini.

Ketidakpedulian terhadap alam, telah melahirkan berbagai masalah seperti banjir, pencemaran air, tanah dan udara serta berbagai ragam penyakit yang menganggu kesehatan masyarakat. “Alam akan selalu merespon sikap kita. Jika kita merusak, maka alam pun akan merusak kita. Jadi belajarlah bahasa alam” pungkasnya (RADAR BEKASI)

Selasa, 10 November 2009

Kenanglah mereka dalam sanubari dan prilaku

Hari ini mengingatkan kita akan apa yang terjadi pada bangsa ini dulunya.....bagaimana bangsa ini dulunya...dan apa yang dilakukan oleh anak-anak bangsa ini dulunya...yang kini mereka hanya tinggal kenangan nisan...atau penggalan kalimat dalam buku sejarah..bahkan banyak diantara mereka yang tak terkenang sama sekali.....

ketika kita menyimak penggalan puisi khairil anwar yang berjudul " Antara Karawang Bekasi " betapa tulus mereka..betapa agung mereka...dengan mempersembahkan..keringat...hati..pikiran dan bahkan darah.

namun yang mereka minta hanya satu...kenang-kenanglah kami.....

tidakkah kita malu pada nisan-nisan mereka....
tidakkah kita ingin berjuang seperti mereka dalam kehidupan kita sekarang..
tidakkah kita ingin belajar bagaimana menghargai bangsa dan negara yang telah mereka perjuangkan kemerdekaannya......
tidakkah kita ingin bagaimana bangsa dan negara ini maju seperti keinginan para pahlawan...
dan bukakankah itu hal yang wajar, rasional dan reasoneble...

namun betapa angkuhnya kita sekarang....
untuk mengenal meraka saja anak-anak bangsa ini hampir tak mau...
apalagi untuk mengenangnya.....dan menjadikannya panutan dalam hidup dan kehidupan kita.....

Bangsa dan negara ini hampir mencapai titik nadhir....
tidakkah kita semua berpikir...apa yang sudah kita persembahkan buat bangsa dan negara ini.....

marilah kita semua berkaca pada cermin kehidupan dari perjalanan bangsa tercinta...jadiakanlah semua perjuangan dan pengorbanan pahlawan kita sebagai pijakan dasar melangkah membangun pertiwi dan NKRI tercinta......

" JAS MERAH jangan sekali kali melupakan sejarah " ( bung Karno )
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya ( HM. Soeharto ).

Selamat hari Pahlawan....jadikan mereka panutan hidup dan prilaku..
Selamat hari Pahlawan....Kenanglah mereka dalam sanubari kita...


 

Recent post

EKONOMI (3) GAYA HIDUP (7) HUKUM (12) POLITIK (1) REALITAS (8) SOSIAL (5) WAJAH (5)
Powered by  MyPagerank.Net

monitor

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net