Jumat, 04 September 2009

Hilaludin Yusri "Bekasi Luluh Lantak"

SEMUA Orang sepakat bahwa pemuda adalah generasi pelurus dan penerus bangsa. Tapi sedikit yang peduli dengan masa depan pemuda yang kini hidup dalam kepungan globalisasi, dimana nilai-nilai materialisme, individualisme dan hedonisme perlahan menyusupi urat nadi generasi muda. Amnesia sejarah menjadi penyakit baru dikalangan anak muda dewasa ini. “mungkin anak muda sekarang lebih kenal Dewi Persik ketimbang KH. Noer Ali, bisa jadi lebih fasih bercerita tentang musik dan grup band ketimbang sejarah Sumpah Pemuda dan para pencetusnya” ujar Hilaluddin Yusri, Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Bekasi.

Kekhawatiran pria kelahiran Bekasi tahun 1974 bukan tanpa alasan, menurutnya bangunan nilai saat ini sudah sangat kropos dan rapuh. Bekasi tempo dulu yang terkenal dengan kultur masyarakatnya yang agamis, berubah menjadi masyarakat yang sekuler. Kini kala sore hari, sangat jarang dijumpai rombongan remaja berbusana muslim menenteng kitab suci menuju masjid dan musola. Lepas magrib dan isya, tidak lagi terdengar lantunan ayat suci yang dikumandangkan.

“beda dengan saat saya remaja dulu, kini mall sudah menjadi tempat ibadah baru bagi banyak anak muda, pesantren menjadi benteng terakhir untuk menahan laju globalisasi di Bekasi” kata Hilal menghabiskan masa remajanya dalam lingkungan pesantren di Ujung Malang, Babelan.

Kondisi ini membuat Hilal merasa sangat prihatin. Dalam pandangannya, Bekasi telah luluh lantak disemua sendi kehidupannya dan nyaris tidak ada yang bisa dibanggakan. Di ranah ekonomi, laju pembangunan dan industrialisasi ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah pinggiran seperti Bekasi bagian Utara dan Selatan. Begitu juga dengan kekayaan Sumber Daya Alam yang tidak bisa sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat. Ranah politik pemerintahanpun tidak beda kusutnya.

Kondisi ini tidak lepas dari political will pemerintah daerah dari masa ke masa yang kurang peka dalam membaca realitas kebutuhan masyarakat secara jangka panjang. Pembangunan infrastruktur ternyata tidak diikuti dengan pembangunan sumber daya manusia. Sehingga masa transisi kultur dari tradisional ke industri modern tidak dapat diimbangi oleh masyarakat Bekasi, yang terjadi kemudian adalah gegar budaya. “masyarakat bekasi tidak siap menghadapi perubahan yang demikian cepat, sehingga tidak dapat bersaing dan pada akhirnya terpinggirkan” kata pria penampilan kalem tersebut.

Hilal mencontohkan, ketika sawah dan lading yang menjadi sumber penghidupan para petani disulap menjadi kawasan industri dan perumahan, pemerintah daerah tidak memikirkan nasib petani yang tergusur. Parahnya, juga tidak ada upaya penyiapan SDM yang dapat bersaing di dunia industri semisal dengan mendirikan SMK dan Balai Latihan Kerja (BLK). “warga Bekasi hanya menjadi penonton didaerahnya sendiri, sebab mata pencaharian mereka terbunuh” kata Hilal lirih.

Untuk itu, bertepatan dengan momentum sumpah pemuda, Hilal berharap lahir sebuah kesadaran bersama dikalangan kaum muda untuk bersama-sama memberi kontribusi nyata bagi Bekasi. Yaitu dengan mengoptimalkan peran organisasi kepemudaan sebagai kawah candradimuka, untuk mengodok konsep dan solusi atas beragam persoalan kedaerahan serta menjadi tempat pengkaderan. “sudah saatnya kaum muda tampil dengan konsep dan solusi” cetusnya bersemangat.

Hal tersebut hanya akan menjadi mimpi, jika Pemerintah Daerah sebagai pemegang kebijakan tidak mengambil peran besar dalam pembinaan pemuda. Sebab selama ini, program yang diluncurkan oleh Pemda hanya bersifat temporal dan seremonial. Padahal, pemuda kota Bekasi membutuhkan hal yang lebih subtansi dan jangka panjang. Seperti misalnya program pemberdayaan dan peningkatan skill personal sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. “potret ketimpangan masyarakat di daerah Cikarang dan Cibitung cukup menjadi contoh buruk pembangunan, rencana pembangunan di Bekasi utara jangan sampai melahirkan gegar budaya lagi” kata pria yang pernah mencuat namanya karena kerap membongkar kasus korupsi di Kabupaten Bekasi.

Hilal berharap dengan adanya rencana pembentukan Dinas Pemuda pada SOTK yang abru dapat lebih mewadahi aspirasi anak-anak muda Bekasi. “pemuda Bekasi harus diselamatkan” ujar Hilal. (bratha)


0 komentar:

Posting Komentar

 

Recent post

EKONOMI (3) GAYA HIDUP (7) HUKUM (12) POLITIK (1) REALITAS (8) SOSIAL (5) WAJAH (5)
Powered by  MyPagerank.Net

monitor

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net