Selasa, 15 Desember 2009

Belajar Filosofi Kebun Bunga

Dibalik sepak terjangnya yang keras, tegas dan tidak kenal kompromi, Hilal ternyata seorang pencita tanaman dan bunga. Di rumahnya, beragam macam bunya memenuhi pelataran. Hilal, bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berkebun merawat dan menata tamannya. Ia seorang pecinta bunga sejati, coba saja tanya tentang apa saja mengenai bunga, ia pasti akan bisa menjelaskan secara gamblang dengan senang hati.

“Ada kepuasan tersendiri jika saya berada di tengah-tengah kebun. Melepas penat setelah seharian berkutat dalam pekerjaan,” katanya.

Menata kebun, kata dia, adalah seni yang mengasyikan. Perlu kepekaan dan intuisi dalam menata posisi tanaman, agar sedap dipandang. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan sosial politik. Masyarakat Bekasi sangat hetrogen dan tinggal di daerah yang memiliki potensi sumber daya alam, kultur dan budaya yang berbeda-beda. Jika tidak ditata dengan baik, maka akan semrawut.

“Saya banyak belajar sosial dari kebun. Di dalam sebuah taman, banyak sekali ragam bunga yang justru membuat indah dipandang. Dalam kehidupan sosial, kita tidak bisa memaksakan satu ragam yang sama, dan jangan salah menempatkan posisi” candanya.

Misalkan, masyarakat daerah utara yang bisa hidup dalam kultur tradisional, dengan potensi SDA yang agraris, jangan dipaksakan berubah menjadi masyarakat industri yang modern. Atau sebaliknya, masyarakat yang tinggal di daerah industri maka harus ditempa untuk memiliki daya saing. Dalam struktur pemerintahan juga begitu, penempatan orang dalam jajaran birokrasi harus pas dengan kemampuan dan kapasitasnya. Dengan begitu maka akan tercipta harmonisasi.

“Jika salah mengenali, maka akan salah menempatkan. Yang terjadi bukan lagi harmoni tapi anarki” katanya.

Pemerintah daerah, kata dia, seharusnya belajar dari filosofi alam tersebut. Apalagi dalam konteks kekinian, persoalan alam sudah menjadi perhatian dunia internasional. Bagaimana, pembangunan bisa tumbuh dan berkembang tanpa merusak keberadaan alam. “Itulah kenapa di Negara-negara maju, mengenal konsep kota ramah lingkungan” terang pria yang gemar menyanyi ini.

Ketidakpedulian terhadap alam, telah melahirkan berbagai masalah seperti banjir, pencemaran air, tanah dan udara serta berbagai ragam penyakit yang menganggu kesehatan masyarakat. “Alam akan selalu merespon sikap kita. Jika kita merusak, maka alam pun akan merusak kita. Jadi belajarlah bahasa alam” pungkasnya (RADAR BEKASI)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Recent post

EKONOMI (3) GAYA HIDUP (7) HUKUM (12) POLITIK (1) REALITAS (8) SOSIAL (5) WAJAH (5)
Powered by  MyPagerank.Net

monitor

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
SEO Stats powered by MyPagerank.Net